Penulis itu Haram

/
1 Comments


novel 'ketika' menjadi salah satu novel yang ada di Best Fiction di salah satu gramedia Surabaya (foto: uncle Dang Aji)


Hallo.... hallo.... hallo...!!


Apa kabar, dirimu? Diriku di sini sedang galau akut karena lagi revisi naskah novel kedua, yang alhamdulillah banyaaaak banget. Sampai-sampai aku pengen gantung diri di dalam mimpi. Tapi, setelah kupikir-pikir, daripada gantung diri, mending hadapin aja. Toh, pasti akan selesai, selama 'mau' mencari jalan. Tapi, jujur, aku galau banget ngerjain novel kedua ini. Bukannya apa-apa sih, tapi novel kedua ini nggak hanya sekadar romance, tapi ada balutan-balutan adat dan budaya. Nulis yang romance remaja aja ampe pusing segala, nah ini ada embel-embelnya, siapa yang nggak galau?

Hikssss :(

Kadang-kadang, sebelum aku mengeluh terlalu banyak, aku sering berpikir,  aku memang galau, sangat galau, setidaknya menurutku, aku punya banyak masalah yang menuntut jalan keluar, tapi di luar sana, masih ada yang lebih galau dan lebih besar lagi masalahnya ketimbang apa yang aku rasakan. Jujur. Setelah berpikir seperti itu, semangat perlahan kembali berkoar-koar dalam diriku. Karena, nggak ada alasan untuk mengeluh, nggak ada alasan untuk menyerah, kalau memang diri masih memiliki harapan. Harapan apa pun itu. Selama masih memilikinya, katakan 'tidak' pada mengeluh dan menyerah.

Oke. Aku nggak akan mengeluh dan nggak akan menyerah.

Semangat revisiiiiiii *teriak pada diri sendiri*

Oh, aku kebanyakan curcol, ya, hehe.

Okesip. Pada postingan pertama ini selama berbulan-bulan mengabaikan blogku yang tercinta ini, aku mau share artikel yang kutulis dan dimuat di website keren itu: nyunyu barangkali sudah ada yang pernah membaca di antara kalian, dan siapa tahu masih ada yang belum. Bagi yang belum, bisa baca tulisan di bawah yaaa;


Penulis itu Haram

Tak bisa dimungkiri, dalam menulis, tanpa sadar, kita kerap memvonis tulisan/karya kita sendiri. Hal semacam itu cukup sering juga saya dapati ketika ada yang meminta saya membaca tulisan mereka—umumnya berupa cerpen. Tetapi, kadang kala, yang meminta dibaca karyanya itu selalu menambahkan embel-embel: “Tapi, maaf, tulisan saya jelek, hehehe.” Seakan ada kesan “tidak menghargai” tulisan sendiri dalam kata-kata itu. Padahal, sebelum tulisannya itu dihargai orang lain, terlebih dahulu penulisnyalah yang harus menghargai tulisannya. Betuuul, kan?

Sepertinya, memvonis karya sendiri semacam itu bisa jadi penyakit mematikan mental nomor satu untuk penulis—atau yang sedang bercita-cita menjadi penulis. Coba saja kita bayangkan, berapa banyak waktu yang sudah kita luangkan dan sudah berapa banyak lelah yang kita peroleh hanya untuk menulis cerita yang pada akhirnya kita katakan jelek juga? Saat kita memvonis karya kita sendiri, secara tidak langsung kita sudah menggugurkan mental kita sendiri. Mental kesediaan karya kita dibaca oleh banyak orang atau mental untuk mengirim ke media atau penerbit-penerbit. Lantas, pada akhirnya, tulisan itu hanya akan tergeletak di folder komputer dan tak pernah menyeruak mencari jalan keluar. Menjadi sampah. Menjadi tulisan yang hanya dibaca penulisnya sendiri. Duh, nggak asyik banget, kan?

Bukankah itu sama saja dengan sia-sia? Waktu dan lelah yang tak ada artinya sama sekali? Bagaimana kalau kita tak perlu memvonis apa pun pada karya kita? Tidak perlu bilang jelek dan tidak sampai “angkuh” juga bahwa tulisan kita sangat, sangat, dan sangat bagus. Kita hanya perlu PERCAYA, bahwa tulisan kita itu bisa memberikan manfaat bagi siapa pun yang membacanya. Sederhana, tapi bisa memberi efek yang luar biasa.

Sama halnya saat selesai menulis novel saya—Ketika: saat cinta bersilangan—sempat hati memvonis tulisan sendiri. Tetapi, kemudian, saya teringat ucapan seorang teman di dunia maya: “Penulis itu haram. Haram memvonis karyanya sendiri. Bagus tidaknya sebuah tulisan, satu-satunya yang berhak memvonis hanyalah pembaca.” Entah bagaimana, saya pun kembali memperoleh kepercayaan pada tulisan saya sendiri. Berbekal keBERANIan—hal lain yang juga harus dimiliki oleh penulis—saya pun mengirim naskah ke Penerbit Bukune. Dan, hasilnya memang luar biasa!

Perkataan teman itu pun sampai sekarang saya masih lengket di kepala. Sangat berguna ketika saya tengah menulis atau selesai menyelesaikan sebuah tulisan. Sangat berguna saat saya hendak mengirim ke penerbit atau media-media.

Lalu, apa yang harus membuat kita tidak percaya pada kemampuan menulis kita?

Apa yang harus mencekal mimpi-mimpi kita menerbitkan buku?

Tidak ada. Dan, tidak perlu ada.

Mari menulis, mari percaya pada tulisan sendiri, dan mari berlomba-lomba mengirimkannya ke media dan penerbit. Untuk hasil, waktu yang akan menjawabnya dengan bijak.


Semoga bermanfaat yaaaa ^*


You may also like

1 comment: