Semenjak saya mulai bekerja di Daeng Rewa, ada satu kegiatan favorit saya yang perlahan-lahan terlupakan—membaca buku. Ya. Awal-awal saya bekerja, saya tidak pernah membaca buku—membaca artiker sih tetap karena lewat handphone, tapi tetap saja sensasinya beda—karena saya tidak memiliki koleksi buku di sini. Saya mulai membaca ketika Pak Bos tahu bahwa saya suka membaca dan suka menulis. Berhubung Pak Bos juga suka membaca dan tentu saja memiliki banyak koleksi buku, akhirnya Pak Bos meminjamkan saya buku-bukunya—di kemudian hari, Pak Bos beberapa kali membelikan saya buku di Gramedia, sumpah membuat saya bahagia bukan main. Buku gratis, Jooon! Haha. Sejak saat itulah, saya mulai membaca buku di sela-sela bekerja.

Namun, ada yang aneh. Saya tidak bisa menikmati bacaan saya kalau sambil bekerja. Membaca beberapa lembar, lalu harus melayani pembeli. Lanjut membaca lagi, mulai hanyut dengan cerita, eh ada pembeli lagi. Terlalu sering seperti itu membuat saya kehilangan feel cerita. Dan sungguh itu bikin kesal. Pada akhirnya, perlahan-lahan, saya mulai malas membaca. Kalau begini terus keadaannya, bagaimana saya bisa menikmati lembar-lembar bacaanku? Begitu saya berpikir.

Tak hanya itu, saya juga membandingkan apa yang saya rasakan ketika masih di Kabaena. Membaca kapan pun saya mau, menikmati betul apa yang tengah saya baca. Satu buku—kalau memang ceritanya bagus—bisa selesai dalam satu atau dua hari. Di sini, hmmm, satu buku kadang nggak selesai-selesai, haha.

Namun, kemudian, ada yang tak bisa saya abaikan. Dorongan untuk membaca buku itu selalu ada. Saya ingin membaca buku. Saya tidak bisa kalau tidak membaca buku. Seolah ada yang hilang rasanya. Tapi, bagaimana caranya supaya apa yang saya baca bisa saya nikmati? Nggak enak banget baca buku tapi nggak bisa dinikmati. Ya, kan? Membaca malam setelah depot tutup? Ini bisa jadi pilihan, tapi yang seringkali terjadi setelah depot tutup mata saya tinggal 5 Watt. Susah kalau untuk dipakai membaca buku. Satu-satunya pilihan yang ada adalah membaca buku di sela-sela kerja.

Sebuah pertanyaan memantul-mantul dalam kepala saya: mulai sekarang atau tidak pernah sama sekali? Membaca buku di sela-sela kerja atau tidak akan pernah sama sekali? Mau sampai kapan menunggu waktu yang tepat, dengan kondisi yang kamu inginkan, suasana yang kamu harapkan? Bila memang menunggu itu, percayalah itu tidak akan pernah ada. Kalau pun ada, paling saat libur kerja saja. Pilih mana?

Waktu yang tepat? Sekarang!

Ya, sekarang!

Saya kemudian menyadari, bahwa semua ini hanya masalah pembiasaan. Saya hanya belum terbiasa membaca di sela kesibukan, membaca di tengah keramaian—sama halnya dengan menulis. Dan, yang perlu saya lakukan adalah mulai membiasakan. Awal-awalnya tidak menikmati, namun tetap saya paksakan menyelesaikan bacaan meskipun harus terpotong-potong oleh kerjaan. Perlahan-lahan, saya akhirnya bisa menikmati, bisa hanyut dalam bacaan. Sekarang, seramai apa pun di sekitar, saya sudah bisa fokus membaca dan menghanyutkan diri di sana.

Dalam hal menulis pun perlahan-lahan mulai terbiasa. Yang tadinya selalu menulis dalam keheningan, kini bisa menulis di tengah keramaian. Ada untungnya juga, sih. Saya jadi bisa latihan fokus.

Meskipun begitu, untuk menyelesaikan membaca sebuah buku, saya kadang membutuhkan waktu lebih banyak—kadang seminggu, bahkan lebih, dan tak jarang sangat berlebihan, haha—dasar sayanya ajah! Nah, karena itulah, sekarang sebelum memulai membaca buku, saya akan membagi buku tersebut menjadi 3 atau 4 bagian, tergantung ketebalan. Setiap bagiannya harus selesai di baca dalam 1 hari. Jadi kalau ada 3 bagian, maka buku itu akan kelar saya baca dalam waktu 3 hari. Bagusnya, cara ini menuntut saya untuk memaksimalkan waktu sebaik mungkin. Alhamdulillah....

Bukankah waktu itu sangat mahal? Ya. Orang-orang memiliki waktu yang sama di dunia ini, tetapi mengapa ada yang sukses dan ada yang begitu-begitu saja. Semua kembali pada satu pertanyaan: bagaimana kita menghabiskan waktu yang sudah Tuhan berikan?

Note: Tulisan ini seharusnya saya posting pada hari Sabtu, namun Wi-fi di Daeng Rewa sedang error, jadilah baru bisa saya posting hari ini.


Ini seharusnya menjadi hari keenam, tapi sekali lagi saya gagal menulis secara rutin. Tidak perlulah saya menulis alasannya di sini, karena kalau mau mencari alasan selalu tersedia banyak di kepala. Yang jelas, ternyata untuk istiqamah itu tidak mudah. Saya sampai greget pada diri saya sendiri, yang tak mampu menantang rintangan demi rintangan yang menghantam diri ini, menghantam pertahanan saya untuk terus menulis, apa pun yang terjadi. Nyatanya, saya gagal. Sejauh ini, sudah dua kali saya gagal menulis. Yang seharusnya tulisan saya telah mencapai tujuh tulisan dengan hari ini, tapi justru baru mencapai lima tulisan.

Meskipun gagal, saya tidak mau berhenti melanjutkan proyek pribadi ini, proyek untuk membiasakan menulis setiap hari. Semangat, Aiman!


***

Ia tidak ingin mendambakan pertemuan itu kalau saja tahu semua akan begini. Orang yang katanya mencintainya, menyayanginya, kini justru melangkah menjauhinya. Ia tidak mengerti, mengapa semua terlalu cepat, hubungan mereka. Ia tidak yakin apakah telah membuat kesalahan, sehingga menyurutkan langkah orang yang dicintainya itu. Dan ia pun bertanya-tanya, mengapa seolah-olah orang itu hanya sejenak saja mampir dalam hidupnya?

Apakah memang ada orang seperti itu? Sejenak saja mampir dalam kehidupan seseorang, menorehkan rupa-rupa warna di sana--bahagia, rindu, janji-janji--lalu pergi seolah-olah tak terjadi apa-apa. Tak menoleh sedikitpun untuk sekadar melihat seseorang yang telah ditinggalkannya, yang kini tengah terseok-seok menenteng berkantung-kantung kenangan. Memang hanya sejenak, tapi kenangan yang telah tercipta begitu banyaknya.

Ia meragu, apakah mampu melewati hari demi hari, berjalan bersisian bersama kenangan? Apakah ia mampu melewatinya sendiri? Apakah ia tak pantas bahagia? Ah, kalau saja ia tahu akan begini, ia tak mau terlalu mencintai orang itu. Ia tak mau menyerahkan seluruh hatinya pada orang itu--yang katanya mencintainya.

Ia yang bodoh atau memang beginilah cinta? Di mana ketika kita mencintai seseorang, jangan pernah mencintainya separuh-separuh. Ataukah itu salah? Salah bila terlalu mencintai seseorang? Ah entahlah. Ia tak tahu. Kini, ia hanya merasa ia terlalu bodoh. Terlalu bodoh untuk mengendalikan perasaannya sendiri. Bila hanyut, ia biarkan dirinya hanyut. Sama sekali tak mempersiapkan hatinya untuk sebuah perpisahan, yang mana merupakan sebuah kepastian.

Kini, ia menyadari, perjalanannya masih panjang. Kini, ia merapal harap, hari demi hari, bahwa waktu segera berbaik hati untuk menjulurkan jari-jemarinya, satu demi satu mengambil kenangan yang membebani hatinya, yang kerapkali membuat rongga dadanya sesak, membuat ulu hatinya memerih, juga basah kedua matanya.

Ia pantas bahagia, bisiknya.
Ia pantas dicintai tanpa selalu dilukai, lagi ia berbisik.
Ia pantas untuk mengenang hari-hari yang telah lalu dalam kebersamaan, bukan kesendirian, lagi-lagi ia berbisik.

Dan, karena itulah, ia terus melangkah, kendati disadarinya tak akan mudah.

Hari keempat. Alhamdulillah masih setia menulis.

Pada tulisan ketiga kemarin, aku bercerita bagaimana aku bisa bekerja di Surabaya, jauh dari Bumi Anoa. Kali ini, aku mau melanjutkan cerita itu.

Rasanya ada begitu banyak hal yang harus aku syukuri. Mendapat pekerjaan tanpa perlu repot-repot mencari. Perjalanan gratis dari Sulawesi–Surabaya. Sesampainya di Surabaya, aku juga tak perlu repot-repot mencari tempat tinggal karena Daeng Rewa menempati ruko 3 lantai, di mana lantai 1 dan 2 berisi jejeran meja-kursi untuk para pembeli. Sementara lantai 3 untuk tempat tidur para pegawainya. Selain itu, makan sehari-hari ditanggung di sini. Juga tak perlu lagi memikirkan biaya akomodasi karena aku tinggal langsung di sana. Alhamdulillah banget kan? :)

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Ada hal lucu ketika awal-awal berada di Surabaya. Seumur hidup tinggal di Sulawesi, dan terbiasa mendengar suara orang-orang yang lantang khas Sulawesi, membuatku kagok saat berada di lingkungan Jawa yang notabene-nya bersuara lembut--sebagian malah super duper lembut--dan ditambah lagi medoknya. Duh, Tuhan. Lengkap sudah. Hahaha.

Pada beberapa kejadian, saat berbicara dengan orang Jawa, aku sampai harus bertanya beberapa kali apa yang sudah mereka katakan. Aku mendadak menjadi bak orang tuli. Kali lain, karena nggak enak dan malu meminta mereka mengulangi apa yang mereka katakan, akhirnya aku mengangguk-angguk saja, pura-pura ngertos. Padahal, oraaaa :D

Di Surabaya ini, sekali lagi Allah mengabulkan keinginanku untuk memiliki usaha, bisnis. Sewaktu di Kabaena, untuk mengisi waktu luang, aku mencoba menjadi seorang dropshiper produk Wall Sticker atau Stiker Dinding. Selama menjadi dropshiper ini keuntungan yang aku dapatkan cukup lumayan. Dan kegiatan ini masih berlangsung sampai aku bekerja di Daeng Rewa. Entah mengapa, aku cukup menyukai bisnis ini. Tidak terlalu merepotkan dan peluangnya juga sangat besar. Orang-orang tentu bosan dengan dinding mereka yang warnanya begitu-begitu saja. Paling ditempeli foto atau poster biar tidak monoton. Just it. Nah, Wall Sticker ini bisa menjadi solusi untuk mempermanis ruangan, menyegarkan mata tatkala memandang *jiaaaah* Apalagi dengan motif yang uaekeh tenan--banyak banget maksudnya, hehe :)

Nah, selama beberapa bulan bekerja, aku akhirnya menyetok Wall Sticker juga. Inilah keinginan yang juga Allah kabulkan. Alhamdulillah. Masalah bisnis Wall Sticker ini, akan aku ceritakan di tulisan lainnya ya.... Yang jelas, seperti yang aku dambakan saat masih di Kabaena, aku akhirnya benar-benar sibuk. Setelah Daeng Rewa tutup, aku melanjutkan dengan membungkus orderan-orderan Wall Sticker. Tak jarang sampai mendekati angka 12 selama aku bergumul dengan orderan-orderan itu. Mata sampai tinggal 5 Watt. Tapi, alhamdulillah. Segala sesuatu yang disyukuri, akan selalu menghadirkan kebahagiaan di dada.

Ya. Karena bahagia itu sederhana; bersyukur.