Berapa lama waktu telah bergulir, adakah kau ingat?

Kau tahu, aku terus menghitungnya kendati itu membuat dadaku menyesak—tak mengapa. Bagaimana kali terakhir kita bertemu, berpelukan lama, menyadari itulah kali terakhir pertemuan kita. Perpisahan adalah yang terbaik, begitu katamu. Haruskah aku memaksa? Haruskah aku memaksa untuk mengatakan bahwa kebersamaanlah yang terbaik, bukan sebaliknya. Namun, adilkah aku menahan kaki yang ingin melangkah? Meskipun aku tahu itu akan melukaiku, namun aku mencoba untuk membiarkanmu. Bila memang kepergian membuatmu bahagia, aku terima. Toh, kalaupun kau tetap berdiri di sisiku, bila itu tak membuatmu bahagia, bukankah itu lebih menyakitkan lagi?

Orang-orang bilang, cinta tentang penerimaan. Saat kita bisa memilikinya maupun saat kita tak bisa memilikinya. Kedua-duanya sama-sama menuntut kita untuk menerima. Dan, aku tak bisa memilikimu. Meski sulit, aku mencoba menerima. Cinta tak selalu menjelma dalam kebersamaan, bukan? Terus-menerus aku mengingatkan diriku seperti itu. Meski di kedalaman hati, harap untuk bersama masih terus memendar layaknya kunang-kunang pada malam nan gulita.

Ah, harap.

Seringkali, harapanlah yang melukai. Entahlah, aku hanya merasa seperti itu. Segala harapan-harapan yang kutitipkan padamu, segala janji-janji yang kau ucapkan—dan bodohnya aku percaya—membuat pintal harapan kian meraksasa. Aku tak marah kau pernah berjanji dan tak kau tepati. Aku hanya marah pada diriku sendiri, mengapa membiarkan harapan demi harapan menggumpali dadaku. Aku marah pada diriku sendiri mengapa tak pernah menyadari bahwa harapan yang dititipkan pada manusia selalu memiliki celah untuk diingkari—di kecewakan.

Aku yang salah. Aku yang bodoh.

Pada pertemuan terakhir itu, aku mencoba merelakan kepergianmu. Semua akan baik-baik saja, batinku terus merapal. Namun, nyatanya, semua tak baik-baik saja. Hari-hari yang menyambutku selalu datang dengan segenggam kenangan, membuatku terus-menerus mengingatmu. Berkali-kali aku mencoba mengabaikan, namun, mengapa begitu sulit? Orang yang masih kita cintai, yang pernah membuat kita bahagia, membuat hari-hari kita tak ubahnya senja—penuh warna—sungguh, bagaimanakah cara melupakannya?

Ada yang bilang, kita tak akan pernah bisa melupakan seseorang yang pernah singgah dalam kehidupan kita. Tapi, suatu ketika nanti, waktu akan berbaik hati meminggirkan semua tentangnya ke sudut ingatan. Sebuah pojok yang remang-remang, tak terlalu menarik untuk dilihat, karena kita menyadari di sana hanya ada luka, kecewa, dan air mata ketika kita mendatanginya. Ya. Pada akhirnya, semua hanya masalah waktu.


Dan, aku menunggu.
Islamic Book Fair, Balai Pemuda, Surabaya.

Sudah tiga kali gagal dalam proyek menulis 40 hari ini. Ya, seharusnya kemarin, Minggu tanggal 1 Mei menjadi tulisan ketujuh—dan ini seharusnya menjadi tulisan kedelapan—tapi kembali saya tidak menulis. Bedanya, kegagalan kemarin tidak terlalu membuat saya sedih. Bukannya apa-apa, masalah kegagalan saya kemarin bukan karena kemalasan saya untuk menulis, tapi karena tidak ada waktu—mungkin, lebih tepatnya sangat sedikit waktu—untuk menulis. Dari pagi sibuk menyiapkan jualan depot, lalu berhubung weekend, Daeng Rewa kebanjiran pembeli, alhamdulillah. Malamnya, saya harus ke Balai Pemuda, ke acara IBF atau Islamic Book Fair—ya, tempat terbaik buat khilaf beli buku, haha—sampai jam sembilan. Pulang-pulang sudah capek. Lelah yang terkumpul dari kesibukan kerja dan kesibukan mencari-cari buku di IBF. Akhirnya, yup, sudah tertebak: bobo cantik ganteng.

Hari Minggu. Meskipun hari yang penuh kesibukan, tapi saya bersyukur karena hari itu menjadi hari yang membahagiakan sebab bisa kopdar dengan teman dunia maya asal Salatiga—mbak Iken Vidya.

Saya mengenal mbak Iken karena uncle Dang Aji. Ya, seingat saya, waktu itu mbak Iken terpilih menjadi nominasi Unsa Ambassador—sebuah ajang pemilihan duta kepenulisan di grup facebook Untuk Sahabat atau Unsa. Uncle kemudian menghubungi saya, untuk menjadi mentor atau pendamping mbak Iken selama melewati masa seleksi. Tugas saya membimbing supaya tulisan mbak Iken bisa mengantarkannya menjadi pemenang—meskipun akhirnya mbak Iken gagal entah ditahap ke berapa, saya sudah lali alias lupa.

Meskipun gagal, kami terus berkomunikasi. Saling menyemangati dalam hal menulis—berhubung sama-sama jadi orang yang moody-an (atau pemalas, yak?) Mengobrol ngalor-ngidul sampai-sampai berasa seperti saudara sendiri. Sampai akhirnya, mbak Iken mengabari akan mbolang ke Surabaya bareng teman karibnya, mbak Mia. Tentu saja saya senang, karena itu berarti kami akhirnya bakal ketemuan. Kopi buaya darat. Tadinya, mbak Iken ke Surabaya dengan misi nonton Ada Apa Dengan Cinta 2, tapi akhirnya nontonya di Pasuruan. Dan ke Surabaya khusus buat bertemu saya *kibas poni sek* Harap maklum, menurut pengakuan mbak Iken, dia itu fans seberat 100kg sama saya. Padahal, saya mah apa atuh....

Sambil kerja, saya bertanya-tanya, mbak Iken dan mbak Mia mau ke sini jam piro-an, ya? Aku berharap datangnya agak sore, karena kalau siang alhamdulillah depot ramai—jadi ngobrolnya susah. Eh, ternyata, datangnya siang. Akhirnya, mau tidak mau, saya mengobrol dengan mereka sambil melayani pembeli yang terus berdatangan, seolah-olah tak mengerti saya sedang ingin mengobrol banyak dengan keduanya.


Seperti yang sudah lama diidam-idamkan mbak Iken, segera saja Es Pisang Ijo di pesan. Sop Konro. Buras. Nasi. Pokoknya uakeh tenan pesanannya, sampai-sampai saya bertanya, nggak bakal kekenyangan nanti? Eh, ternyata oh ternyata, kata mbak Mia, mbak Iken emang porsi makannya segitu haha. Ngak apa-apa sih, asal sehat dan dompet tebal sajah, silakan :D

Mbak Iken dan mbak Mia cukup lama di Daeng Rewa. Hingga akhirnya, mereka pamit dan akan kembali lagi ke Daeng Rewa karena saya ngajakin mereka untuk ke Islamic Book Fair di Balai Pemuda, mumpung lagi di Surabaya. Tapi, ternyata, dua cewek cantik itu mbolang sampai di Delta Plaza. Dapat bbm dari mbak Iken kalau kami ketemu di Delta saja, nanti bareng-bareng ke Balai Pemuda. Yowes ae aku mah haha.

Biar kayak penulis benaran, tanda tangan di novel Ketika milik mbak Iken :)
Alhamdulillah, rejeki anak sholeh, dapat Enting-Enting, oleh-oleh khas Salatiga.

Pada akhirnya, bertemulah kami di Delta Plaza dan menyusuri tepian jalan menuju Balai Pemuda, di mana telah menunggu Diniyah Hidayati,

Ada kejadian lucu. Ketika hendak menyeberang ke Balai Pemuda lewat zabra cross, ternyata kami gagal. Kendaraan-kendaraan tak ada yang memelan, tidak mengerti perasaan kami *eeaaa* Sampai akhirnya, kami mendengar suara, “tetot... tetot...” di kejauhan. Mbak Mia langsung bilang kalau kami lewat zebra cross yang ada “tetot... tetot...” nya saja. Dasar orang Indonesia, baru mau memelankan kendaraan kalau ada suara “tetot... tetot...” Zabra Cros mah diabaikan ae. Preeet!

Dan, di IBF, seperti yang sudah saya duga, kembali saya khilaf membeli buku, padahal stok buku yang belum di baca masih uakeh tenan.

Hasil Khilaf di IBF.
Puzzle buat keponakan, Athalla :)

Pada akhirnya, saya berdoa semoga bisa kembali bertemu dengan mbak Iken, juga mbak Mia yang mendampingi mbak Iken mbolang plus jadi fotografernya. Terkadang, dunia ini memang selebar daun kelor. Allah bisa saja dengan cara-Nya kembali mempertemukan kita. Insya Allah.

Semenjak saya mulai bekerja di Daeng Rewa, ada satu kegiatan favorit saya yang perlahan-lahan terlupakan—membaca buku. Ya. Awal-awal saya bekerja, saya tidak pernah membaca buku—membaca artiker sih tetap karena lewat handphone, tapi tetap saja sensasinya beda—karena saya tidak memiliki koleksi buku di sini. Saya mulai membaca ketika Pak Bos tahu bahwa saya suka membaca dan suka menulis. Berhubung Pak Bos juga suka membaca dan tentu saja memiliki banyak koleksi buku, akhirnya Pak Bos meminjamkan saya buku-bukunya—di kemudian hari, Pak Bos beberapa kali membelikan saya buku di Gramedia, sumpah membuat saya bahagia bukan main. Buku gratis, Jooon! Haha. Sejak saat itulah, saya mulai membaca buku di sela-sela bekerja.

Namun, ada yang aneh. Saya tidak bisa menikmati bacaan saya kalau sambil bekerja. Membaca beberapa lembar, lalu harus melayani pembeli. Lanjut membaca lagi, mulai hanyut dengan cerita, eh ada pembeli lagi. Terlalu sering seperti itu membuat saya kehilangan feel cerita. Dan sungguh itu bikin kesal. Pada akhirnya, perlahan-lahan, saya mulai malas membaca. Kalau begini terus keadaannya, bagaimana saya bisa menikmati lembar-lembar bacaanku? Begitu saya berpikir.

Tak hanya itu, saya juga membandingkan apa yang saya rasakan ketika masih di Kabaena. Membaca kapan pun saya mau, menikmati betul apa yang tengah saya baca. Satu buku—kalau memang ceritanya bagus—bisa selesai dalam satu atau dua hari. Di sini, hmmm, satu buku kadang nggak selesai-selesai, haha.

Namun, kemudian, ada yang tak bisa saya abaikan. Dorongan untuk membaca buku itu selalu ada. Saya ingin membaca buku. Saya tidak bisa kalau tidak membaca buku. Seolah ada yang hilang rasanya. Tapi, bagaimana caranya supaya apa yang saya baca bisa saya nikmati? Nggak enak banget baca buku tapi nggak bisa dinikmati. Ya, kan? Membaca malam setelah depot tutup? Ini bisa jadi pilihan, tapi yang seringkali terjadi setelah depot tutup mata saya tinggal 5 Watt. Susah kalau untuk dipakai membaca buku. Satu-satunya pilihan yang ada adalah membaca buku di sela-sela kerja.

Sebuah pertanyaan memantul-mantul dalam kepala saya: mulai sekarang atau tidak pernah sama sekali? Membaca buku di sela-sela kerja atau tidak akan pernah sama sekali? Mau sampai kapan menunggu waktu yang tepat, dengan kondisi yang kamu inginkan, suasana yang kamu harapkan? Bila memang menunggu itu, percayalah itu tidak akan pernah ada. Kalau pun ada, paling saat libur kerja saja. Pilih mana?

Waktu yang tepat? Sekarang!

Ya, sekarang!

Saya kemudian menyadari, bahwa semua ini hanya masalah pembiasaan. Saya hanya belum terbiasa membaca di sela kesibukan, membaca di tengah keramaian—sama halnya dengan menulis. Dan, yang perlu saya lakukan adalah mulai membiasakan. Awal-awalnya tidak menikmati, namun tetap saya paksakan menyelesaikan bacaan meskipun harus terpotong-potong oleh kerjaan. Perlahan-lahan, saya akhirnya bisa menikmati, bisa hanyut dalam bacaan. Sekarang, seramai apa pun di sekitar, saya sudah bisa fokus membaca dan menghanyutkan diri di sana.

Dalam hal menulis pun perlahan-lahan mulai terbiasa. Yang tadinya selalu menulis dalam keheningan, kini bisa menulis di tengah keramaian. Ada untungnya juga, sih. Saya jadi bisa latihan fokus.

Meskipun begitu, untuk menyelesaikan membaca sebuah buku, saya kadang membutuhkan waktu lebih banyak—kadang seminggu, bahkan lebih, dan tak jarang sangat berlebihan, haha—dasar sayanya ajah! Nah, karena itulah, sekarang sebelum memulai membaca buku, saya akan membagi buku tersebut menjadi 3 atau 4 bagian, tergantung ketebalan. Setiap bagiannya harus selesai di baca dalam 1 hari. Jadi kalau ada 3 bagian, maka buku itu akan kelar saya baca dalam waktu 3 hari. Bagusnya, cara ini menuntut saya untuk memaksimalkan waktu sebaik mungkin. Alhamdulillah....

Bukankah waktu itu sangat mahal? Ya. Orang-orang memiliki waktu yang sama di dunia ini, tetapi mengapa ada yang sukses dan ada yang begitu-begitu saja. Semua kembali pada satu pertanyaan: bagaimana kita menghabiskan waktu yang sudah Tuhan berikan?

Note: Tulisan ini seharusnya saya posting pada hari Sabtu, namun Wi-fi di Daeng Rewa sedang error, jadilah baru bisa saya posting hari ini.