miss_jinjing_4d51fcf0a3fec-203x300
Cina memang diidentikkan orang dengan barang palsu. Rasanya, tidak ada satu pun di Cina yang tidak dipalsukan, kecuali orang. Sepertinya, hampir semua produk yang punya nilai komersial bisa dan sudah dipalsukan di Cina. (halaman 73.)

Selain diidentikkan orang dengan barang-barang palsu, Cina juga diidentikkan sebagai tempat yang jorok, kampungan, dan gudangnya copet. Namun, Cina rupanya tidaklah separah itu. Dalam buku ini, Miss Jinjing membeberkan pengalamannya ke Negeri Tirai Bambu itu dan akhirnya menjadi negera paling sering dikunjunginya sekaligus menjadi negara yang membuatnya jatuh cinta sejak kali pertama datang.

Menurut Miss Jinjing, Cina adalah surga buat perempuan ber-DNA Miss Jinjing dan arena pertempuran yang asyik buat para Miss Jinjing yang jago tawar-menawar. (halaman 36.)
Selain membahas pengalamannya selama ke Cina, entah sekadar jalan-jalan atau menjadi tour-leader dalam shoping trip, buku ini juga kaya akan informasi tentang Cina—mulai dari penerbangan terbaik dari Indonesia, hotel yang nyaman untuk ditinggali, pusat perbelanjaan, makanan, minuman, tempat foto terbaik, check list barang-barang yang wajib dibawa, tips untuk menghindari copet, sampai tips tawar-menawar di sana.

Bagi Anda yang berencana ke Cina, apalagi untuk pebisnis, rasanya buku ini wajib untuk dibaca. Cover yang indah dan ala Cina banget, informatif dalam bahasa yang mengalir dan lincah, dilengkapi juga dengan foto-foto—sayangnya tidak ada caption pada foto-foto itu, misalnya lagi berfoto di mana, tempat itu namanya apa, sehingga pembaca langsung mengetahui bentuk tempatnya, bukan hanya mengetahui namanya saja.

Judul : Belanja Sampai Mati di China
Penulis : Amelia Masniari a.k.a Miss Jinjing
Penerbit : Republika
Tahun terbit : Cetakan 1, Juli 2010
Jumlah halaman : 252 halaman
ISBN : 978-979-1102-92-6


Rating: Red heart Red heart Red heart Broken heart Broken heart
Buku ini saya dapatkan tahun 2011 kalau tidak salah, dari giveaway salah satu akun di Twitter saat saya masih menjadi KUTER aka Kuis Hunter, entah nama akunnya apa, saya sudah lupa. Plus ttd Miss Jinjing tentunya. Akhirnya, setelah beberapa tahun nganggur di rak buku, baru kali ini saya menyelesaikannya. Genre bukunya bukan genre saya soalnya, hehe Smile
Sekarang, ia tahu mengapa orang-orang selalu mengatakan padanya bahwa jangan sekali-kali memberikan seluruh hatimu pada seseorang, atau kau akan menyesal. Memberi sebagian saja terkadang sudah membuat seseorang menyesal.
Saat itu, saat ia mendengar kata-kata itu, ia hanya tersenyum saja. Namun, di dalam hatinya, ia malah mendebat. “Bukankah kita tak boleh memberi seseorang setengah-setengah. Kalau bisa seluruhnya, utuh, mengapa harus memberi setengah. Lagi pula, ini masalah cinta, sesuatu yang ia rasakan sendiri, bahagia dengan perasaan itu, dan bagaimana bisa ia akan menyesal?”
Ia belum tahu. Saat itu, ia masih menjadi seseorang yang baru merasakan cinta. Dan itu, memabukkan. Dan, ia memang terbuai.
Namun, sekarang, ia tahu. Bukan hanya ditinggalkan oleh orang yang masih ia cintai yang membuatnya menyesal, terasa sakit di dada bagai dibelah kapak rasanya, namun karena ia tak mendengar perkataan orang-orang padanya, yang mengingatkannya, bahwa cinta tak pernah selalu indah. Bahwa, ia, yang sayangnya sudah terlanjur memberikan seluruh hatinya, kini harus belajar bertahan dari kenangan-kenangan yang akan membabi buta menyerangkan, dari keinginan dan hasrat yang mendambakan perjumpaan dengannya. Dan inilah yang menyakitkan. Barangkali, akan menjadi hal yang paling menyakitkan untuknya: bertahan mengabaikan orang yang masih dicintainya.
Sanggupkah? Hatinya sendiri meragu. Namun, sependar harap ada di dadanya, kelak, saat ia telah bisa meleraikan diri dari masa lalu, ia tak akan melakukan hal yang sama. Kelak, ia akan mencintai lagi, namun tidak untuk memberikan seluruh hatinya. Kelak, ia juga akan belajar merelakan meski perpisahan belum terjadi. Rasanya, itu lebih baik. Rasanya, itu yang terbaik.
sumber: http://doctruyenhot.net/truyen-ngan

Rasanya, terlalu menyakitkan bila kita menjadi orang yang di tinggalkan. Kita merasa seolah-olah dihempaskan, merasa bahwa kitalah yang salah dalam hubungan itu. Belum lagi kita harus berjalan pulang ditemani kenangan-kenangan selama kebersamaan yang telah lalu. Setelahnya, kita dipaksa menghadapi gerbang bernama “merelakan”. Satu hal, yang kita tahu, tak akan pernah mudah, karena menyadari bahwa kita masih mencintainya. Mungkinkah mudah merelakan orang yang masih kita cintai? Tidak. Dan, itulah yang menyakitkan.
Kelak, berjanjilah, jangan mudah meninggalkan orang karena alasan sederhana. Apalagi hanya karena bosan dan jenuh. Ketahuilah, menjadi orang yang ditinggalkan itu tak pernah mudah. Ketahuilah—sadarilah—kebersamaan kalian terlalu berharga untuk ditukar dengan perpisahan.